KabarMandar.com – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Sulawesi Barat (Sulbar), Junda Maulana, membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Sulbar, Senin (07/09).
Mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka, Junda Maulana menyampaikan rasa syukur atas hadirnya Sekolah Rakyat di Sulbar. Saat ini, Sekolah Rakyat telah hadir di dua daerah, yakni satu sekolah di Mamuju dan satu sekolah di Polewali Mandar (Polman).
“Pertama wajib kita semuanya bersyukur bahwa Sekolah Rakyat itu ada di Sulbar, ada di Mamuju satu, ada di Polewali Mandar satu,” kata Junda Maulana.
Ia menjelaskan, pada tahun ini Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulbar memiliki 450 siswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 180 siswa merupakan peserta didik rintisan, sedangkan 270 siswa lainnya merupakan peserta didik baru yang terdiri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
“Anak-anak kita ada dua, ada dari rintisan sebanyak 180 orang dan yang baru itu 270 orang dengan level tingkatan SD, SMP, SMA,” ujarnya.
Menurut Junda, sarana dan prasarana yang tersedia saat ini relatif mencukupi untuk mendukung pendidikan bagi 450 siswa. Meski pembangunan sejumlah fasilitas belum sepenuhnya rampung, kegiatan belajar-mengajar tetap dapat berjalan dengan memisahkan proses penyelesaian pekerjaan fisik dari kegiatan pendidikan.
Dari sisi kapasitas, asrama, ruang kelas, hingga mobiler sekolah dinilai telah tersedia sesuai kebutuhan 450 siswa.
“Untuk jumlahnya 450 orang ini sudah cukup. Asramanya cukup, ruang kelasnya cukup,” jelasnya.
Junda menambahkan, kapasitas sekolah masih berpeluang ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Setelah seluruh pembangunan selesai, Sekolah Rakyat tersebut diproyeksikan mampu menampung lebih dari 1.000 siswa untuk tiga angkatan pada jenjang pendidikan yang tersedia.
“Kalau sudah jadi ini, maka tiga angkatan, kelas 1, 2, 3 di level pendidikan sudah bisa kita tampung sebanyak seribu lebih,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Junda menekankan pentingnya pembentukan karakter dan kemandirian peserta didik. Ia mengingatkan agar berbagai fasilitas yang diberikan kepada siswa selama menjalani pendidikan berbasis asrama tidak membuat mereka kehilangan kebiasaan untuk mandiri.
“Saya berharap bahwa anak-anak itu bersekolah di sini tetap dikembangkan karakternya sebagai orang yang rajin. Jangan juga masuk di sini kemudian menjadi malas karena dilayani semuanya,” tegas Junda.
Ia juga meminta para guru tidak hanya berfokus pada peningkatan ilmu pengetahuan, tetapi turut memberikan perhatian terhadap pembentukan karakter, akhlak, dan budi pekerti para siswa.
“Guru jangan hanya tahu mengajar, meningkatkan ilmu pengetahuannya saja, tapi juga berkewajiban mengembangkan karakter, akhlak, budi pekertinya juga dikembangkan,” katanya.
Menurut Junda, pendidikan di Sekolah Rakyat diharapkan mampu melahirkan generasi emas yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus akhlak yang baik. Karena itu, guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga berperan dalam mendidik dan memberikan perhatian kepada peserta didik.
“Kita butuhkan anak-anak generasi emas yang intelektualnya bagus, akhlaknya mulia. Guru jangan hanya hebat mengajar, tapi mendidik, menyayangi anak-anak semuanya seperti anak-anaknya sendiri, karena itu adalah generasi kita ke depan,” pungkasnya.
Kepada para siswa, Junda juga berpesan agar mereka berani menunjukkan kemampuan dan bakat yang dimiliki. Ia berharap potensi setiap siswa dapat dikenali oleh para guru sehingga bisa dikembangkan selama menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Saya juga berpesan kepada anak-anak sekalian, keluarkan semua kemampuan, bakat yang saudara-saudara miliki agar bisa dikembangkan di sini,” katanya.
Ia optimistis, jika Sekolah Rakyat dapat berjalan dengan baik dan konsisten, keberadaannya akan memberikan kontribusi terhadap terwujudnya generasi emas, khususnya bagi masyarakat Sulbar.
Sementara itu, untuk kebutuhan konsumsi siswa, dapur sekolah masih dalam tahap proses pembangunan sehingga untuk sementara makanan peserta didik disiapkan melalui layanan katering. Para siswa tetap mendapatkan makan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan malam.
“Dapur sementara berproses. Sementara ini pakai katering karena pemasaknya belum ada. Jadi masih pakai katering, masih tetap tiga kali makan, pagi, siang, dan malam,” kata Junda.
Untuk kurikulum, pembelajaran di Sekolah Rakyat tetap mengacu pada kurikulum pendidikan yang berlaku. Namun, sebagai sekolah berasrama atau boarding school, terdapat penguatan pada aspek kedisiplinan, ibadah, akhlak, dan budi pekerti.
“Kurikulum sama, tapi di sini karena boarding school, maka ada tambahan-tambahan nuansa lain, yaitu pendidikan kedisiplinannya, pendidikan untuk ibadah, akhlak, budi pekerti,” jelasnya.
Junda Maulana memastikan kebutuhan mobiler untuk 450 siswa juga telah tersedia dan dinilai mencukupi untuk menunjang proses pembelajaran di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Sulbar.
